Lawannya tak lolos verifikasi Pilkada Surabaya, ini tanggapan Risma

Lawannya tak lolos verifikasi Pilkada Surabaya, ini tanggapan Risma
Calon Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku belum bisa bersikap apa-apa menanggapi proses Pilkada Surabaya. Terutama usai KPUD Surabaya menyatakan lawan Risma, pasangan Rasiyo dan Dhimam Abror tak lolos proses verifikasi.

"Saya belum bisa apa-apa sekarang karena masih menjabat wali kota. Nanti akan ada saatnya saya bersikap," ujar Risma kepada wartawan di Surabaya dikutip dari Antara, Selasa (1/9).

Saat ditanya harapannya tentang Pilkada Surabaya kali ini, calon wali kota yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bergandengan dengan Whisnu Sakti Buana tersebut mengaku tak bisa berpendapat apapun.

"Saya tidak bisa ngomong harapan, khawatir nanti dikira apa-apa. Pokoknya, kita tunggu saja hasilnya seperti apa," kata mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya itu.

Sementara itu, saat disinggung tentang permohonan pengujian Undang-Undang tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota di Mahkamah Konstitusi (MK), mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya tersebut menyerahkannya ke partai.

"Iya memang sedang proses di MK, tapi saya serahkan ke PDIP," kata wali kota perempuan pertama 'Kota Pahlawan' tersebut.

Pada hari ini, di MK dilangsungkan perbaikan permohonan dengan Nomor Perkara 96/PUU-XIII/2015 dengan pemohon Whisnu Sakti Buana dan Syaifuddin Zuhri, beserta kuasa pemohon Edward Dewaruci.

Pokok perkaranya yakni pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang-Undang meliputi Pasal 51 ayat (2), Pasal 52 ayat (2), Pasal 121 ayat (1), dan Pasal 122 ayat (1).

Pilkada Kota Surabaya terancam dilangsungkan 2017 setelah berdasar berita acara hasil rapat pleno KPU Nomor 42/BA.KPU/8/2015 menyebutkan, pasangan calon Risma-Whisnu (diusung PDIP) memenuhi syarat (MS), sedangkan Dhimam Abror yang berpasangan dengan Calon Wali Kota Rasiyo tidak memenuhi syarat (TMS).

Demi kebaikan bangsa, Prabowo ikhlas PAN gabung pemerintah

Demi kebaikan bangsa, Prabowo ikhlas PAN gabung pemerintah
Para elite Koalisi Merah Putih (KMP) menggelar pertemuan di Bakrie Tower, Kuningan, Jakarta. Prabowo Subianto selaku pimpinan koalisi membeberkan isi pertemuan tersebut.

Ketua Umum Partai Gerindra itu menghormati keputusan Partai Amanat Nasional (PAN) yang membelot mendukung pemerintahan. Menurut dia, KMP akan mendukung sikap PAN bergabung dengan pemerintahan.

"Saya tegaskan kita menghormati keputusan kawan-kawan PAN, kita juga tadi bicara dari hati ke hati. Kita tegaskan sikap sahabat-sahabat di KMP untuk menjalankan demokrasi yang baik dan kuat kita butuh keseimbangan untuk kebaikan bangsa dan rakyat," kata Prabowo di Bakrie Tower, Jakarta, Kamis (3/9).

Meski PAN akan bergabung bersama pemerintah, Prabowo menegaskan KMP akan tetap mengoreksi jalannya pemerintahan. Hal itu dilakukan untuk membangun ekonomi yang sulit.

"Perlu adanya suatu cek and balance kekuatan imbangan yang bisa memberi koreksi-koreksi, saran-saran, masukan-masukan berarti untuk ekonomi yang sedang susah," jelas Prabowo.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan berterimakasih atas sikap KMP yang menghormati keputusannya untuk bergabung bersama pemerintah.

"Saya berterimakasih kepada Pak Prabowo, Pak Ical dan teman-teman KMP lainnya yang menghormati keputusan PAN bergabung dengan pemerintah," ucap Zulkifli.

Dia berharap, dengan mendapat dukungan dari KMP, masalah berat yang tengah dialami Indonesia bisa cepat diselesaikan.

"Mudah-mudahan dengan dukungan teman-teman, seberat apapun masalah bangsa bisa diselesaikan bersama," tandas dia.

Takut Indonesia pecah seperti Uni Soviet, Amien nasihati Jokowi

Takut Indonesia pecah seperti Uni Soviet, Amien nasihati Jokowi
Partai Amanat Nasional (PAN) resmi bergabung dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Sebelumnya, partai berlambang matahari ini menjadi salah satu pilar utama Koalisi Merah Putih (KMP) yang terdiri dari partai politik di luar pemerintah.

Keputusan politik PAN ini bakal memberi pengaruh besar, baik di legislatif maupun pemerintahan. Di DPR, komposisi parpol Koalisi Indonesia Hebat (KIH) beralih jadi mayoritas. Ini tentu menjadi angin segar ke depannya. Sementara di pemerintahan, bukan tidak mungkin PAN memiliki kesempatan mendapatkan kursi kementerian.

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais dukungan keputusan Ketum Zulkifli Hasan. Namun dia memberikan syarat, bergabungnya PAN tersebut semata-mata untuk kepentingan koalisi yang lebih besar atau koalisi nasional.

"Sudah saya ingatkan jika bergabungnya PAN bukan merupakan langkah jangka pendek, namun merupakan awal mula dari koalisi nasional," kata Amien Rais di Yogyakarta, Kamis (3/9).

Dia menjelaskan koalisi nasional ini diperlukan untuk membantu Indonesia keluar dari krisis. Menurutnya itu perlu kekuatan bersama dari segenap bangsa Indonesia untuk menghentikan krisis yang terjadi.

"Kondisi Indonesia saat ini mirip dengan Uni Soviet dan Yugoslavia yang bubar, jika tidak segera diatasi Indonesia dimungkinkan mengalami nasib yang sama," terangnya.

Untuk keluar dari krisis, Amien Rais menyarankan Jokowi dan JK melakukan pertemuan dengan seluruh ketua lembaga tinggi negara, pimpinan TNI dan Polri, Ketua umum partai politik, unsur-unsur agama, tokoh bangsa, akademika, pengusaha, media dan LSM.